makalah sistem informasi manajemen | Implikasi Etis Dari Teknologi Informasi
Sistem Informasi
Manajemen
“Implikasi Etis Dari
Teknologi Informasi”
FAKULTAS EKONOMI DAN
BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI SURAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Pada saat ini,
penggunaan komputer bukan menjadi hal baru lagi di kalangan
masyarakat. Hampir semua perusahaan bahkan di setiap rumah terdapat perangkat
komputer. Banyak hal yang dapat dilakukan dengan komputer
mulai dari kepentingan umum sampai kepentingan pribadi yang sifatnya rahasia. Penggunanya pun bervariasi, mulai dari
anak-anak hingga orang dewasa. Oleh karena
itu adanya perlindungan terhadap akses masuk untuk suatu komputer
merupakan hal yang penting.
Perilaku kita
diarahkan oleh moral, etika, dan hukum. Undang-undang mengenai komputer
telah diterapkan dibanyak negara untuk mengatasi kekhawatiran seperti hak
mendapatkan akses data, hak privasi, kejahatan komputer
dan juga hak paten peranti lunak. Beberapa negara maju bahkan
telah mengeluarkan undang-undang semacam ini, dan hukum di suatu negara dapat
mempengaruhi penggunaan komputer di
tempat lain di dunia. Perusahaan memliki kewajiban untuk menetapkan budaya etika
yang harus diikuti oleh karyawannya. Budaya ini didukung oleh kredo perusahaan
program-program etika. Etika
komputer
sangat
penting karena masyarakat memiliki persepsi tertentu yang terkait dengan
penggunaan komputer.
Untuk menjaga
itu semua diperlukan sebuah aturan atau undang-undang khusus mengenai komputer dan penggunaannya. Pada dasarnya masyarakat memiliki empat hak dasar yang berkenaan
dengan penggunaan komputer yaitu pribadi, akurasi, properly, dan akses. Semua itu
harus didukung dengan sikap kita yang bijaksana
dalam menggunakan komputer. Diperlukan adanya kombinasi antara moral, etika, dan hukum agar komputer digunakan secara
tepat sesuai kebutuhan. Jika antara ketiganya berjalan dengan baik,
penggunaan teknologi informasi komputer ini dapat memberikan pengaruh yang
positif bagi semua pihak yang menggunakannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
CAKUPAN
PERSPEKTIF VERSUS CAKUPAN DESKRIPTIF
Cakupan
perspektif menentukan bagaimana MIS (Management Information System) sebaiknya
dikembangkan dan digunakan di dalam suatu perusahaan. Jelas ini merupakan
pendekatan yang lebih baik untuk menampilkan materi kepada mahasiswa yang
memasuki dunia bisnis dibandingkan dengan memberikan cakupan deskriptif yang
menjelaskan bagaimana hal-hal yang sedang dilaksanakan.
Sehubungan
dengan berbagai kejadian akhir-akhir ini yang melibatkan perusahaan dan
para eksekutif yang tidak memenuhi
tanggung jawab etis mereka, pendekatan etika secara perspektif mungkin terlihat
naïf dan berandai-andai. Disadari bahwa beberapa orang akan menyalahgunakan
system informasi. Tujuannya adalah untuk menyadarkan bahwa pelaku bisnis pada
umumnya dan spesialis informasi pada khusunya memiliki tanggung jawab tertentu
di dalam
batasan etis, moral, dan hukum.
B.
MORAL, ETIKA,
DAN HUKUM
1. Moral
Moral adalah tradisi kepercayaan mengenai
perilaku yang benar dan yang salah. Moral adalah institusi sosial dengan
sejarah dan seperangkat aturan. Meskipun masyarakat di sekeliling dunia tidak
semuanya mengikuti seperangkat moral yang sama, tetapi terdapat kesamaan
diantara semuanya. “Melakukan apa yang secara moral benar”, adalah landasan
dasar perilaku kita.
2. Etika
Kata etika berasal
dari Bahasa Yunani ethos, yang berarti “karakter”. Etika (ethics) adalah
sekumpulan kepercayaan, standar, atau teladan yang mengarahkan, yang merasuk ke
dalam seseorang atau masyarakat. Semua individu bertanggung jawab terhadap
komunitas mereka atas perilaku mereka. Komunitas dapat berarti rukun tetangga,
kota, negara, atau profesi. Tidak seperti moral, etika bisa jadi amat
bervariasi dari satu komunitas dengan yang lain.
3. Hukum
Hukum (law) adalah
peraturan perilaku formal yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, seperti
pemerintah, terhadap subjek atau warga negaranya. Pada tahun 1966 kasus
kejahatan komputer pertama menjadi berita ketika seorang programer untuk sebuah
bank mengubah suatu program komputer sehingga program tersebut tidak akan
menandai rekeningnya ketika terlalu banyak uang ditarik. Ia dapat terus menulis
cek meskipun tidak ada uang di dalam rekeningnya. Tipuan ini bekerja hingga
komputer tersebut rusak, dan pemrosesan manual mengungkapkan rekening dengan
saldo yang sudah negatif dan tidak ditandai tersebut. Programer tersebut tidak
dituntut atas kejahatan komputer, karena pada saat itu tidak ada hukum mengenai
kejahatan tersebut. Sebaliknya, ia dituntut atas tuduhan membuat entri palsu
pada catatan bank.
Ø Undang-Undang Komputer Di Amerika Serikat
Setelah
undang-undang komputer Amerika Serikat komputer mulai diterapkan, undang undang
ini berfokus pada berbagai hak dan batasan yang berkaitan dengan akses data,
khususnya data kredit dan data yang dipegang oleh pemerintah. Privasi,
kejahatan komputer, dan paten peranti lunak merupakan fokus utama.
1.
Hak dan
batasan akses data
Undang-undang kebebasan informasi (Freedom of Information Act)
1966 memberi warga negara dan organisasi-organisasi Amerika Serikat hak
terhadap akses data yang dipegang oleh pemerintah federal, dengan beberapa
perkecualian.
2.
Privasi
Tidak lama setelah undang-undang kebebasan informasi (Freedom of
Information Act) diterapkan, pemerintah federal mencanangkan undang-undang
privasi komunikasi elektronik (Electronic, Communications, Privacy Act)
tahun 1968. Namun, undang-undang ini hanya mencakup komunikasi suara.
Undang-undang ini ditulis ulang pada tahun 1968 agar mencakup data digital,
komunikasi video, dan surat elektronik.
3.
Kejahatan
computer
Pada tahun 1984, kongres Amerika Serikat memperkuat undang-undang
mengenai penggunaan komputer dengan mengeluarkan peraturan –peraturan yang
secara khusus di terapkan pada kejahatan komputer:
a.
Undang-Undang Keamanan Komputer Usaha Kecil dan
Pendidikan (The Small Business Computer
Security and Education Act) ditetapkan oleh Dewan Penasihat Keamanan Komputer
Usaha Kecil dan Pendidikan (Small
Business Computer Security and Education Advisory Council).
b.
Undang-undang
Perangkat Akses Palsu dan Kejahatan serta Penipuan Melalui Komputer (Counterfeit Access Device and Computer Fraud
and Abuse Act) menetapkan bahwa merupakan suatu kejahatan federal jika
seseorang mendapatkan akses tanpa otorisasi atas informasi yang berhubungan
dengan pertahanan negara atau hubungan luar negeri.
C.
MELETAKKAN
MORAL, ETIKA, DAN HUKUM PADA TEMPATNYA
Penggunaan
komputer di dunia bisnis diarahkan oleh nilai moral dan etis manajer, spesialis
informasi dan pengguna, serta hukum yang berlaku. Hukum adalah yang termudah
untuk direpresentasikan karena bersifat tertulis. Tetapi etika tidak
terdefinisi secara tepat dan mungkin bahkan tidak disetujui oleh masyarakat.
Wilayah etika komputer yang kompleks inilah yang saat ini sangat banyak
diperhatikan.
D.
KEBUTUHAN AKAN
BUDAYA ETIKA
Keterkaitan
manajemen dengan perusahaannya merupakan dasar untuk budaya etika. Jika perusahaan
dituntut untuk berlaku etis, maka menajemen tingkat tinggi harus bersikap etis
dalam segala sesuatu yang dilakukan dan dikatakannya. Manajemen tingkat atas
harus memimpin melalui contoh. perilaku ini disebut dengan budaya etika.
Tugas
dari manajemen tingkat atas adalah untuk meyakinkan bahwa konsep etikanya
merasuk ke seluruh anggota organisasi. Para eksekutif dapat mencapai
implementasi ini melalui tiga tingkat, yaitu:
1.
Kredo
Perusahaan
Kredo perusahaan adalah pernyataan singkat mengenai nilai-nilai
yang ingin dijunjung perusahaan. Tujuan kredo perusahaan adalah untuk
memberitahu individu dan organisasi, baik di dalam dan di luar perusahaan, akan
nilai-nilai etis yang dianut oleh perusahaan.
2.
Program Etika
Program etika adalah upaya yang terdiri atas berbagai aktivitas
yang didesain untuk memberikan petunjuk kepada para karyawan untuk menjalankan
kredo perusahaan. Aktivitas biasa yang dilakukan adalah sesi orientasi yang
diadakan untuk para karyawan baru.
3.
Kode perusahaan
yang disesuaikan
Banyak perusahaan merancang sendiri kode etik perusahaan mereka.
terkadang kode etik ini merupakan adaptasi dari kode untuk industri atau
profesi tertentu.
Kredo
perusahaan memberikan dasar untuk pelaksanaan program etika perusahaan. Kode
etik tersebut menggambarkan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan
dilaksanakan oleh para karyawan perusahaan dalam berinterkasi antara satu
dengan lain dan dengan elemen-elemen lingkungan perusahaan.
E.
ALASAN DI BALIK ETIKA KOMPUTER
James
H. Moor mendefinisikan etika komputer sebagai analisis sifat dan dampak sosial
teknologi komputer serta permusan dan justifikasi dari kebijakan-kebijakan yang
terkait untuk penggunaan teknologi secara etis. Dengan demikian, aktivitas
utama dalam etika komputer ada dua, yaitu: (1) menyadari dampak penggunaan
komputer terhadap masyarakat dan (2) merumuskan kebijakan yang akan menjaga
agar teknologi digunakan di seluruh perusahaan secara etis.
James
Moor mengidentifikasi tiga alasan utama dibalik minat masyarakat yang
tinggi akan etika komputer, antara lain:
1.
Kelenturan
secara logis
Moor
mengartikan kelenturan secara logis sebagai kemampuan untuk memprogram komputer
untuk melakukan hampir apa saja yang ingin kita lakukan. Komputer akan
melakukan tepat seperti apa yang diinstruksikan oleh pemrogram. Tetapi, jika
komputer digunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak etis, bahayanya akan
terletak pada orang-orang yang ada dibalik komputer tersebut.
2.
Faktor
Transformasi
Alasan
atas etika komputer ini didasarkan pada fakta bahwa kompter dapat mengubah cara
kita mengerjakan sesuatu dengan drastis. Salah satu contoh yang baik adalah
e-mail. Transformasi yang sama juga dapat dilihat dari cara manajer
melaksanakan pertemuan.
3.
Faktor
ketidaktampakan
Ketidaktampakan
operasi internal memberikan kesempatan terjadinya:
· Nilai pemrograman yang tidak tampak, yaitu perintah rutin yang
dikodekan programer ke dalam program yang menghasilkan proses yang diinginkan
pengguna. Selama proses penulisan program, programer harus melakukan
serangkaian penilaian mengenai bagaimana program tersebut harus mencapai
tugasnya. Hali ini bukan merupakan tindak kejahatan, namun lebih pada kurangnya
pemahaman.
· Perhitungan rumit yang tidak tampak, berbentuk program yang sangat
rumit sehingga pengguna tidak dapat memahaminya.
· Penyalahgunaan yang tidak tampak, mencakup tindakan yang disengaja,
yang melintasi batasan hukum maupun etis.
Masyarakat
tidak hanya mengharapkan pemerintah dan dunia usaha ntuk menggunakan komputer
secara etis, namun juga menuntut beberapa hak yang berhubungan dengan komputer.
Mason menciptakan klasifikasi hak-hak manusia dalam wilayah komputer yang
disebut PAPA. PAPA merupakan representasi dari empat hak dasar masyarakat
sehubungan dengan informasi, yaitu privasi (privacy), akurasi (accuracy),
kepemilikan (property), dan aksesibilitas (accesibility).
1.
Hak Privasi
Mason merasa bahwa hak ini terancam oleh dua hal, yaitu
meningkatnya kemampuan komputer untuk digunakan dalam kegiatan mata-mata, dan
meningkatnya nilai informasi dalam proses pengamnilan keputusan.
2.
Hak untuk
Mendapatkan Keakuratan
Komputer
memungkinkan tingkat keakuratan yang tidak dapat dicapai dengan sistem
non-komputer. Potensi ini memang tersedia, namun tidak selalu didapatkan. Beberapa
sistem berbasis komputer berisikan lebih banyak kesalahan daripada yang
diberikan sistem manual.
3.
Hak Kepemilikan
Yang dibahas disini adalah hak kepemilikan intelektual, biasanya
dalam bentuk program komputer. Vendor peranti lunak dapat menghindari pencurian
hak kepemilikan intelektual melalui undang-undang hak cipta, hak paten dan
persetujuan lisensi.
4.
Hak Mendapatkan
Akses
Kini,
kebanyakan informasi ini telah dikonversikan ke basis data komersial, sehingga
membuat ketersediaanya untuk masyarakat berkurang. Untuk mengakses informasi
ini, seseorang harus memiliki peranti keras dan peranti lunak komputer yang
diharuskan dan membayar biaya akses.
F.
AUDIT INFORMASI
Saat menyusun
etika penggunaan komputer, satu kelompok dapat memegang peranan yang amat penting.
Mereka adalah para auditor internal. Perusahaan dengan semua ukuran
mengandalkan auditor eksternal dari luar organisasi untuk memverifikasi
keakuratan catatan akuntansi. Perusahaan-perusahaan yang lebih besar memiliki
staf tersendiri yang berfungsi sebagai auditor internal, yang melaksanakan
analisis yang sama seperti auditor eksternal namun memiliki tanggung jawab yang
lebih luas. Beberapa auditor eksternal juga melaksanakan beberapa jenis audit
internal dan mengawasi pekerjaan para auditor internal. Badan pengawas pasar
modal telah menerapkan pembatasan-pembatasan pada jumlah audit internal yang
dapat dilakukan oleh audit eksternal.
Dewan direktur
mencakup komite audit, yang mendefinisikan tanggung jawab dari departemen audit
internal dan menerima sebagian besar laporan audit. Direktur audit internal
mengelola departemen audit internal dan biasanya melapor ke CEO atau direktur
keuangan (chief financial officer - CFO). Posisi tingkat tinggi audit
internal di dalam di dalam organisasi menjaga agar posisi ini dihormati sebagai
aktivitas yang penting dan mendapatkan kerja sama dari para manajer di semua
tingkat.
1.
Jenis Aktivitas
Audit
a.
Audit Finansial
(Financial Audit)
Audit
finansial memverifikasi catatan-catatan perusahaan dan merupakan jenis
aktivitas yang dilaksanakan auditor eksternal. Pada beberapa tugas, auditor
internal bekerjasama dengan auditor
eksternal. Pada tugas lain, auditor internal melakukan seluruh pekerjaan audit
sendiri.
b.
Audit
Operasional (Operational Audit)
Audit
operasional tidak dilaksanakan untuk memverifikasi keakuratan catatan,
melainkan untuk memvalidasi efektifitas prosedur. Audit jenis ini merupakan
jenis pekerjaan yang dilakukan oleh analis sistem pada tahap analisis dari masa
siklus perancangan sistem. Sistem yang dipelajari hampir selalu berbentuk
virtual dan bukan fisik, namun tidak selalu melibatkan komputer.
Ketika
para auditor internal melaksanakan audit operasional, mereka mencari tiga fitur
sistem dasar:
1)
Kecukupan
pengendalian. Apakah sistem tersebut didesain untuk mencegah, mendeteksi, atau
memperbaiki kesalahan?
2)
Efisiensi.
Apakah operasional sistem tersebut dilaksanakan sedemikian rupa sehingga
mencapai produktivitas yang terbesar dari sumber daya yang tersedia?
3)
Kepatuhan
dengan kebijakan perusahaan. Apakah sistem tersebut memungkinkan perusahaan
tersebut untuk mencapai tujuannya atau memecahkan masalahnya dengan cara yang
disarankan?
c.
Audit
Berkelanjutan (concurrent audit)
Audit
berkelanjutan sama dengan audit operasional, tetapi audit berkelanjutan
berlangsung terus-menerus. Sebagai contoh, audit internal dapat secara acak
memilih karyawan dan memberikan slip gaji kepada mereka tanpa menggunakan
sistem surat-menyurat perusahaan. Prosedur ini menjaga agar nama di catatan
pembayaran gaji mewakili karyawan sungguhan dan bukanlah entri fiktif yang
dibuat oleh seorang penyelia (supervisor) curang yang ingin mendapatkan
gaji lebih.
d.
Desain Sistem
Pengendalian Internal
Dalam
audit operasional dan beriringan, auditor internal mempelajari sistem yang
sudah ada. Namun, auditor tidak harus menunggu hingga sistem diimplementasikan
untuk memengaruhi sistem tersebut. Auditor internal selayaknya berpartisipasi
secara aktif dalam perancangan sistem karena dua alasan. Pertama, biaya untuk
memperbaiki kelemahan sistem meningkat secara dramatis seiring dengan siklus
masa hidup sistem. Kedua, untuk melibatkan para auditor internal dalam
perancangan sistem adalah mereka menawarkan keahlian yang dapat meningkatkan
kualitas sistem tersebut.
2.
Subsistem Audit
Internal
Arsitektur yang
umum mencakup subsistem input yang memasukkan data ke dalam basis data. Dalam
sistem informasi finansial, subsistem audit internal merupakan salah satu
subsistem input. Melibatkan auditor internal dalam tim perancangan sistem
merupakan suatu langkah yang baik untuk mendapatkan sistem informasi yang
terkendali dengan baik, dan sistem tersebut merupakan langkah yang baik untuk
memberikan yang mereka perlukan kepada manajemen informasi guna mencapai dan
mengelola operasional bisnis yang beretika.
G.
MENERAPKAN ETIKA DALAM TEKNOLOGI INFORMASI
Bantuan dalam
bentuk kode etik dan program edukasi etika, dapat memberikan fondasi untuk
budaya etika yang ingin dicapai oleh sebuah perusahaan. Program edukasi dapat
membantu menyusun kredo perusahaan dan meletakkan program etika pada tempatnya.
Kode etik dapat digunakan seperti apa adanya atau disesuaikan dengan perusahaan
tersebut.
1.
Kode Etik
Association for Computing Machinery (ACM) yang didirikan pada tahun 1947, adalah sebuah organisasi komputer
profesional tertua di dunia. ACM telah menyusun kode etik dan perilaku
profesional yang diharapkan diikuti oleh 80.000 anggotanya. Selain itu, kode
etik dan praktik profesional rekayasa peranti lunak dibuat dengan tujuan agar
bertindak sebagai panduan untuk mengajarkan dan mempraktikan rekayasa peranti
lunak, yaitu penggunaan prinsip-prinsip perancangan dalam pengembangan peranti
lunak.
Bentuk kode etik ACM yang ada saat ini diadopsi pada tahun 1992 dan
berisikan “keharusan” yang merupakan pernyataan tanggung jawab pribadi. Kode
ini dibagi menjadi empat bagian:
a.
Keharusan Moral
Umum
Keharusan
ini berkenaan dengan perilaku moral (memberi kontribusi kepada masyarakat;
menghindari bahaya; berlaku jujur, dapat dipercaya, dan adil) dan isu-isu yang
pada saat ini mendapatkan perhatian hukum (hak milik, hak cipta, privasi, dan
kerahasiaan).
b.
Tanggung Jawab
Profesional yang Lebih Spesifik
Hal
ini berkenaan dengan dimensi-dimensi kinerja profesional. Isu moral seperti
berlaku jujur dalam melakukan evaluasi dan menghargai komitmen. Dan juga isu
hukum dan tanggung jawab sosial untuk berkontribusi terhadap pemahaman umum
mengenai komputer.
c.
Keharusan
Kepemimpinan Organisasi
Sebagai
pemimpin, anggota ACM memiliki tanggung jawab untuk mendukung penggunaan sah
sumber daya komputer, menstimulasi orang lain di organisasi untuk memenuhi
memenuhi tanggung jawab sosial, memungkinkan pihak lain di dalam organisasi
mendapatkan manfaat dari komputer, serta melindungi kepentingan para pengguna.
d.
Kepatuhan
Terhadap Kode
Di sini, anggota ACM harus mengindikasi dukungan untuk kode etik.
Kode ACM
membahas lima dimensi utama pekerjaan yang berkaitan dengan komputer – moral,
hukum, kinerja profesional, tanggung jawab sosial, dan dukungan internal. Dalam
kode etik dan praktik profesional rekayasa peranti lunak, kode tersebut
mencatat pengaruh penting yang dapat diterapkan para ahli peranti lunak pada
sistem informasi dan terdiri atas ekspektasi di delapan hal penting, yaitu
masyarakat, klien dan atasan, produk, penilaian, manajemen, profesi, kolega,
dan diri sendiri. Dari delapan hal tersebut, lima diantaranya (yaitu
masyarakat, klien dan atasan, manajemen, profesi, dan kolega) berkaitan dengan
tanggung jawab dimana ahli tersebut menjadi bagian. Dan dua lainnya (produk dan
penilaian) berkaitan dengan kinerja profesional, serta satu yang terakhir (diri
sendiri) berkaitan dengan peningkatan diri sendiri.
2.
Pendidikan
Etika Komputer
a.
Mata Kuliah di
Perguruan Tinggi
Di
awal pendiriannya, ACM merancang suatu model kurikulum komputer yang menentukan
berbagai mata kuliah komputer yang harus ditawarkan institusi pendidikan.
Perguruan tinggi dan universitas telah mengajarkan etika komputer sejak
beberapa waktu lamanya. Sekolah-sekolah bisnis biasanya menawarkan mata kuliah
etika atau mengintegrasikan ilmu tersebut ke dalam mata kuliah bisnis seperti
pemasaran dan akuntansi. Beberapa mata kuliah online juga tersedia.
University of Phoenix menawarkan mata kuliah interdisipliner dalam bidang etika
untuk mahasiswa jurusan teknologi informasi tingkat strata satu, dan American
College of Computer & Information Sciences menawarkan mata kuliah etika
komputer dalam kurikulum SIM mahasiswa strata satunya.
b.
Program
Profesional
Asosiasi
Manajemen Amerika menawarkan program khusus yang membahas masalah-masalah
penting saat ini, seperti etika. Survei Nilai Perusahaan AMA 2001 menemukan
bahwa 23 persen dari perusahaan responden mengikuti panduan etika dan
integritas hanya pada separuh waktu, dan 33 persen sering kali mengeluarkan
pernyataan yang bertentangan dengan kenyataan sesungguhnya. Forum Isu Khusus
AMA dilaksanakan di New York City pada bulan November 2002 untuk membahas
isu-isu ini. Salah satu pembicaraannya adalah Frank Ashen, Direktur Etika di
Bursa Efek New York.
c.
Program Edukasi
Swasta
Legal Knowledge Company, menawarkan modul mata kuliah berbasis Web
yang membahas berbagai permasalahan hukum dan etika. Mata kuliah ini ditujukan
untuk dipergunakan perusahaan yang berusaha meningkatkan kesadaran beretika
karyawannya.
Mata kuliah
perguruan tinggi memungkinkan mahasiawa untuk bersiap-siap mengatasi
permasalahan etika ketika mereka memasuki industri, dan program profesional dan
swastamemungkinkan manajer dan karyawan di setiap tingkatan untuk menjaga
kesadaran beretika serta komitmen mereka seiring dengan perubahan tuntutan
sosial.
H.
ETIKA DAN CIO
Sejak tahun
2002, para CEO dan CFO diharuskan oleh hukum untuk menandatangani keakuratan
laporan keuangan mereka. Persyaratan ini meletakkan tanggung jawab di bahu para
eksekutif serta unit pelayanan informasi perusahaan dan unit pelayanan informai
yang berkenaan dengan bisnis untuk memberikan informasi finansial yang
dibutuhkan kepada para eksekutif.
Pelayanan
informasi hanyalah merupakan satu unit di dalam struktur organisasi, namun
berada pada posisi kunci yang memiliki pengaruh terbesar dalam memenuhi
tuntutan pemerintah maupun masyarakat akan pelaporan keuangan yang akurat.
Terlebih lagi, sebagai seorang eksekutif yang memiliki tanggungjawab terhadap
informasi penuh waktu, CIO merupakan orang yang tepat untuk memimpin
upaya-upaya untuk memenuhi tujuan pelaporan ini. CIO dapat memenuhi ekspektasi
pelaporan keuangan dengan cara mengikuti program yang mencakup hal-hal berikut:
1.
Mencapai
tingkat pemahaman yang lebih baik akan pemahaman prinsip-prinsip akuntansi.
2.
Mempelajari
sistem informasi yang menyelesaikan laporan keuangan dan mengambil tindakan
perbaikan.
3.
Mendidik
eksekutif perusahaan mengenai sistem-sistem keuangan.
4.
Mengintegrasikan
ke dalam sistem informasi alarm yang memperingatkan eksekutif terhadap
aktivitas yang membutuhkan perhatian.
5.
Secara aktif
berpartisipasi di dalam memberikan informasi keuangan kepada elemen lingkungan.
6.
Mengendalikan
dengan ketat keuangan yang dihabiskan untuk sumber daya informasi.
I.
PENGARUH SARBANEX-OXLEY
Jika dahulu
sebelum tahun 2002 tidak ada alasan yang kuat mengepa CIO harus menjadi
mercusuar integritas informasi di dalam perusahaan, sekarang alasan itu sudah
ada. Untuk merespon skandal keuangan di Enron, WorldCom (sekarang MCI),
HealthSouth, dan Tyco, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan undang-undang
Sarbanes-Oxley (secara resmi dinamai Undang-Undang Perlindungan Investor dan
Reformasi Akuntansi Perusahaan Publik tahun 2002). Proposal undang-undang ini
disetujui oleh DPR 423-3 dan Senat 99-0, dan disahkan oleh presiden Bush pada
30 Juli 2002. Tujuan dari Sarbanes-Oxley, yang dikenal dengan SOX, adalah untuk
melindungi para investor dengan cara membuat para eksekutif perusahaan
bertanggung jawab secara pribadi atas informasi keuangan yang diberikan ke lingkungan
perusahaan, khususnya pemegang saham dan komunitas keuangan.
SOX terdiri
atas 10 pasal utama, 2 diantaranya secara langsung memengaruhi unit pelayanan
informasi perusahaan:
1.
CEO dan CFO
harus menandatangani laporan keuangan.
2.
Perusahaan-perusahaan
Amerika Serikat disyaratkan untuk memiliki unit audit internal.
Jika CEO dan CFO harus menandatangani keuangan perusahaan, maka CIO
dan pelayanan informasi harus memberikan informasi keuangan yang memiliki empat
dimensi informasi, yaitu relevansi, keakuratan, ketepatan waktu, dan
kelengkapan. Dan jika semua perusahaan harus memiliki staf auditor internal,
mereka harus diwakili dalam penyusunan semua sistem informasi, bukan hanya
sistem keuangan.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam kehidupan
sehari-hari, kita diarahkan oleh banyak pengaruh. Sebagai warga negara yang
memiliki tanggung jawab sosial, kita harus melakukan hal yang secara moral
benar, berlaku etis, dan mematuhi hukum yang berlaku. Meskipun teknologi informasi digunakan dalam
dunia maya, namun perlu diketahui aturan-aturan yang mengikat saat memanfaatkan
teknologi informasi tersebut.
Etika sangatlah penting dalam kehidupan. Bahkan dalam
suatu perusahaan perlu diterapkan budaya etika, yang mulai dilakukan oleh
Manajemen Tingkat Atas sebagai contoh untuk para karyawannya. Hal ini dapat
dicapai dengan diawali menetapkan kredo perusahaan, dilanjutkan dengan
menetapkan program etika, dan kemudian berakhir penetapan kode etik perusahaan
sebagai budaya etika.
Dalam suatu perusahaan, etika komputer mengharuskan CIO
untuk waspada terhadap penggunaan komputer dan menempatkan kebijakan, serta
memastikan kepatuhan pada budaya etika tersebut. Manajer-manajer lain di bawah
CIO dan semua pegawai yang menggunakan komputer atau yang terpengaruh oleh komputer
turut serta bergabung dan mendukung CIO dalam tanggung jawab penggunaan
komputer.
Komentar
Posting Komentar